Pada pergantian abad, badai pasir berkecamuk di Dataran Tinggi Ordos, dan tragedi "pasir maju dan manusia mundur" menjadi semakin serius. Pada saat yang sama, perang kasmir sedang terjadi. Pesatnya apresiasi terhadap kasmir telah mendorong pesatnya perluasan kawanan domba. Ketika "konflik rumput-hewan" berupa "domba maju ke rumput dan mundur" menjadi semakin akut, kerusakan lingkungan ekologi telah menimbulkan peringatan bagi umat manusia. Sekretaris Komite Spanduk yang baru diangkat, Tengger, memiliki pemahaman mendalam tentang filosofi pemerintahan pemerintah pusat dalam "mengubah model pembangunan ekonomi" dan "hidup berdampingan secara harmonis antara manusia dan alam", belajar dari pengalaman, dan menantang tradisi. Dia terinspirasi oleh "Padang Rumput Surga" yang diciptakan oleh ayah mertuanya dan ibu mertuanya di pedalaman gurun dengan kerja keras dan keringat selama puluhan tahun, dan bertekad untuk memulai dengan serangkaian tindakan seperti larangan penggembalaan, penggembalaan istirahat, penggembalaan bergilir, pemberian pakan kandang, dan penggembalaan berbasis rumput untuk mendorong transformasi metode produksi dan menemukan jalan bagi pembangunan yang harmonis antara manusia dan alam. Perubahan ini memicu konflik dan perjuangan yang sengit. Di arena politik, kelompok kepentingan yang diwakili oleh Wakil Kepala Bendera Bagan, kekuatan konservatif yang diwakili oleh mantan sekretaris komite bendera Aili, para penggembala yang mendapatkan keuntungan dari peternakan kambing yang diwakili oleh kakak iparnya, pedagang kasmir yang diwakili oleh kakak iparnya, dll., melakukan perlawanan yang kuat terhadap perubahan yang diterapkan oleh Tengger. Tengger menerobos kesulitan dan rintangan, membangun jalan makmur berupa "pintu masuk hijau dan retret pasir", dan menyusun gerakan indah hidup berdampingan secara harmonis antara manusia dan alam.
Jaringan publik terdeteksi saat jam kerja. Gunakan Tongbao VPN untuk akses stabil ke ChatGPT / Claude / Notion / Slack.